Emak Daily

Ramadhan Pertama Tanpa Ayah

Ramadhan, 1995⁣

“Ayah, emang kito biso ye selama Romadhon khatam sejuz sebulan?” (Iim lima tahun)⁣

Ayah, memangnya kita bisa selama Ramadhan khatam satu juz sebulan?” (Iim lima tahun)

“Yo biso lah, cubo itung satu juz berapo lembar, nah duo kan itu kau baco tiap abis sholat kagek khatam kau sebulan Ramadhan. Nak mintak apo bae dikabulke samo Allah. Nak mintak apo kau?”⁣

Ya bisa lah, coba kamu hitung satu juz berapa lembar. Nah dua kan? Bisa kamu baca 2 lembar setiap habis sholat nanti insya Allah dalam 30 hari 1 bulan Ramadhan. Memangnya mau doa minta apa?”

“Aku pengen TV besak cak tempat pak raden, yah” (Iim lima tahun)⁣

Aku ingin TV yang besar seperti punya Pak Raden ya, Ayah” (Iim lima tahun)

“Caronyo tiap malem ganjil ramadhan kau bangun, ngaji minta ya Allah bukakan jalan dari keinginan2 aku. Itu TV di rumah pak raden boleh anaknyo menang MTQ, nah kau doa biar pacak melok2 MTQ jugo cak itu”⁣

Nah, coba setiap malam ganjil di bulan Ramadhan kamu bangun, ngaji dan minta Allah bukakan setiap keinginan. TV di rumah pak raden itu hadiah dari anaknya menang MTQ. Kamu bisa doa sama Allah biar bisa ikut MTQ juga seperti anaknya pak Raden.”

“Ayah, ngapo surat ini susah nian ngafalnyo? Kebalik-balik terus aku”⁣ (Iim tujuh tahun)

Ayah, kenapa surat ini susah sekali dihafal? Aku sering kebolak balik.” (Iim tujuh tahun)

“Ayah, ngapo ado yang nawaitu samo idak sih. Di madrasah aku pakek nawaitu di sekolah idak”⁣

Ayah, kenapa kalau sholat orang-orang ada yang pake nawaitu dan tidak.”

“Ayah, ngapo kalo di bulan ramadhan banyak uong ke kuburan?”

Ayah, kenapa kalau menjelang Ramadhan banyak orang pergi ke kuburan?”


“Ayah, kalo kami anak-anak ayah merantau galo ayah ibuk cakmano?

Ayah, kalau kami anak-anak ayah merantau semua nanti ayah dan ibu bagaimana?”

Ayah:⁣
“Yo dak cakmano-cakmano. Kamu pegi tuh kan cari ilmu. Itu lah yang jadi celengan ayah. Asal pas ayah nak mati kamu yang lah sholeh-sholeha yang nalqinke.”⁣

Ya gak gimana-gimana. Kalian kan pergi untuk mencari ilmu. Itu lah nanti yang jadi tabungan ayah. Asal saat ayah sakaratul maut, kalian anak-anak ayah yanng sholeh dan sholeha yang akan menalqikan.”
Palembang, malam jumat 14 februari 2020⁣.Ayah pergi dengan banyak kenangan-kenangan diskusi kami tentang Alquran. Dari mulai hal receh seperti hadiah MTQ sampai perbedaan mazhab dan fiqih.

Ayah, anak ayah yang ini,yang ayah sematkan kata “Sholihah” dibelakang namanya, anak ayah yang ini yang merantaunya paling jauh ternyata⁣ Allah takdirkan ia dampingi ayah di tarikan nafas terakhir sebelum beperginya. Anak ayah yang selama ini mungkin paling jarang menghabiskan awal Ramadhan bersama telah Allah beri kesempatan istimewa, Allah hadirkan ia mengucapkan kalimat tauhid di telinga ayah yang ruhnya sedang proses akan perginya⁣.

Ayah, tahukah ayah? Ramadhan ini begitu berbeda. Bahkan mungkin bagi semua orang di dunia. Masjid-masjid telah terkunci untuk sementara, tak ada lagi candaan buka bersama, tak ada lagi teriakan pejuang sahur keliling yang membangunkan di setiap malam.

Ayah, tahukan ayah? Walau tanpa ayah kami tetap tegakkan tarawih di rumah. Dulu ayah sangat marah kalau sehabis berbuka kami makan sampai kekenyangan sehingga telat berdiri untuk Isya.

Ayah, tahukah ayah? Kami membutuhkan ayah sebagai imam kami. Kami butuh ayah yang selalu bersimpuh di sejadah. Kami butuh ayah yang menggaungkan dan memberi kami semangat di setiap sisa sepuluh hati terakhir ramadhan agar amalan kami tidak goyah.

Ayah, tahukah ayah? Saat ini yang menggantikan ayah itu adik, Yah. Iya ayah adik Hafidz. Hafidz kita, yang sejak kecil dengan segala keterbatasannya kini mampu berdiri tegak memakai sorban ayah, mengimami kami satu rumah.

Tapi, Hafidz masih suka kebolak-balik kalau membaca surat Al-Qadar. Kenapa dia selalu lupa kalau ayat pertama itu “ fiy lailatil qadr” dan ayat kedua baru “lailatul qadr”. Setiap malam selalu aku ingatkan, bahkan sebelum sholat suka kami pinta ia tallaqi dulu untuk surat-surat yang akan ia baca. Iya, Ayah. Hafidz anak bujang ayah, yang dulu suka ayah gendong kemana-mana untuk terapi karena di usia tiga tahun ia belum bisa jalan, yang di usia 13 tahunnya selalu ayah ingatkan untuk meminum obat untuk sakitnya. Ah ayah, andai ayah tahu doa yang selalu diucapkan oleh Hafidz, dia selalu menyebut nama ayah dalam setiap doanya. Aku selalu mengintip dan mencuri dengar akannya.

Ayah,Ibu yang selama ini bergantung dengan ayah untuk ke pasar kini bisa pergi mandiri. Aku tahu dalam ketangguhan ibu, ia setiap malam menangis dalam sholatnya, mendoakan anak-anaknya agar kelak kami bisa menjadi penerang kuburmu.Oh iya, ibu juga suka lupa memakai masker, tapi tenang karena selalu ada kami yang mengingatkan.

Ayah, sekarang dunia sedang tidak baik. Dan mungkin jika ayah masih disini ayah pun akan kesusahan untuk berobat ke rumah sakit karena virus ada dimana-mana sekarang. Ah, kalau boleh memilih tak apa kami bersusah ria menjaga ayah dalam pendemi, asal ayah tetap masih bernafas disini di sisi kami.

Astaghfirullah, Ya Rabb. Maaf ayah, bukan kami tidak ridho, bukannya kami berandai-andai. Tapi rasa sayang kami kadang mengacaukan logika. Kadang, rasa rindu kami padamu dalam Ramadhan ini membuat kami lupa bahwa setiap orang pun saat ini mengalami Ramadhan yang berbeda. Kami mengira hanya kamilah yang paling merana.

Ini adalah Ramadhan pertama kami tanpamu, ini juga Ramadhan pertama kami tanpa satu kali pun melangkahkan kaki kami ke masjid. Ramadhan yang sembilu, bercampur aduk antara perasaan tak biasa dan kehilangan.

Oh iya ayah, aku meminta izin pada suamiku untuk tahun ini Ramadhan bersama ibu. Alhamdulillah dia mengerti jadi selain Ramadhan di tengan pendemi, ramadhan pertama tanpa ayah, juga ini Ramadhan pertamaku tidak bersama suami. Alhamdulillah suami ridho akan niat istrinyta yang ingin berbakti.

Terimakasih ayah, terimakasih telah menjadi orang pertama yang mengenalkan Allah pada kami. Terimakasih karena disaat setiap Ramadhan kami selalu mengingat momen Ramadhan bersamamu. Insya Allah kami akan kuat melewati semua ini, kuat kau tinggalkan, kuat menghadapi wabah ini, kuat hidup dalam jarak terpisah saat ini karena pendemi. Insya Allah ayah tenang disana bersama amalan-amalan ayah dan kami memantaskan diri disini untuk menambah amalan-amalan kami agar kelak kita masih bisa bersama berkumpul di syurga sekeluarga.

(Tulisan ini ditulis untuk: Lomba Menulis Semarak Ramadhan IP Asia dengan tema: Ramadhan di tengah pendemi)

Profil Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *