Emak Daily

Yang Tersisa dari Ramadhan

Bismillah….

Ramadhan telah usai dan syawal pun telah beralalu. Agar tetap berada dalam semangat Ramadhan kemarin, saya mencoba mengikat ilmu dengan catatan biar tidak hilang ilmunya mencoba mendokumentasika apa yang sudah di dapat saat Ramadhan kemarin dan berharap semoga dapat istiqomah mengamalkannya.

Ramadhan kemarin memang tak biasa, pertama kali memulai awal ramadhan di rumah (Palembang) setelah berbelas tahun merantau, pertama memulai ramadhan tanpa ayah dan harus berjauhan dengan suami dimasa pendemi.

Karena itu selain pada target ibadah mahdhoh, saya berikhtiar mengambil beberapa kegiatan positif online demi mengisi hari-hari Ramadhan ini.

Tak tanggung-tanggung lebih dari lima kelas online saya ambil saat itu. Dalam kondisi mengurus madrasah dan tantrumnya anak-anak, Alhamdulillah semuanya dapat terlewati semua bahkan ada kelas yang masih ON sampai sekarang.

Home Schooling Islami Abdullah Roy

Sering disebut HSI Abdullah Roy, sebenarnya kelas ini saya ikuti sejak akhir tahun 2019. Dengan materi kajian setiap harinya dan evaluasi setiap harinya. Materi yang dibahas seputar ketauhidan, kajian Islam secara menyeluruh. Ada konsekuensi bagi member yang tidak mengerjakan evaluasi harian dan mingguan yaitu dikeluarkan dari kelas.

Kelas ini GRATIS, dan pembukaannya per batch. Dalam satu angkatan batch bisa ada ribuan member yang tersebar dalam banyak grup.

Grup ini alhamdulillah mampu mengisi hari-hari dengan ilmu. Bisa mengganti nyanyian dengan kajian, bisa duduk dalam majelis ilmu setiap hari tanpa harus kemana-mana lagi.

Sekolah Baca Kitab

Ini grup berbayar di telegram. Saat kita registrasi kita aka dikirimkan modul dan CD untuk mengikuti materi. Materi diberkan via link Youtube, materinya cukup sederhana dengan sumber kitab-kitab fiqih sederhana yang jadi pembahasan.

Tujuan saya mengikuti grup ini adalah untuk merefresh ilmu kembali. Karena latar belakang pendidikan dengan Arab Botak, jadi tentunya ada pertanggung jawaban ilmiah tersendiri secara pribadi dengan diri walau tak lagi duduk di bangku pendidikan formal.

Di grup ini saya cenderung kurang aktif, mungkin karena aturannya tidak terlalu ketat wkwkwk dan tidak ada sistem eliminasi. Saya ada rencana mengurai kembali materi dgrup ini jika waktu sudah memungkinkan nanti.

Kelas Berbenah Sadis

Dari namanya kita sudah bisa menebak, ini kelas yang paling tidak nyantuy yang saya jalani. Kelas ini berbayar dan ada sistem eliminasi.

Setiap shubuh para member harus setor presensi di grup, materi diskusi hanya satu jam dalan sehari tapi tugasnyaaaaa bisa berhari-hari. Disini saya belajar tentang metode konmari, mengetahui konsep berbenah dan yang paling penting pratiknya. Dan dari grup ini lah syariatnya saya banyak dipertemukan mamak-mamak aktifis pembelajar online yang benar-benar multitalent semuanya. Dari grup ini terbuka banyak kelas-kelas pembelajaran lain yang bisa diikuti.

Untuk orang-orang yang susah konsisten sendiri seperti saya grup ini sangat banyak membantu.

Trainer Menulis

Grup ini juga bukan grup santuy. Ada sistem eliminasi per tahapnya. Kita diajak membuat writing goal untuk buku yang akan kita tulis sampai benar-benar konsisten membuat naskah empat halaman setiap hari dalam waktu satu setengah bulan.

Grup ini gratis, tapi ini batch terakhir yang gratis dan selebihnya berbayar. Dan grup ini membernya cenderung dari berbagai kalangan. Kalangan penulis fiksi, penulis profesional, guru dan dosen bahkan penulis caption seperti saya juga ada.

Tahapan yang sedang saya lalui di grup ini yaitu tahapan mencari penerbit. Semoga bisa berjodoh dengan penerbit yang cocok sesuai genre dan karakter tulisan saya yang acak adut ini. Sehingga target memiliki buku solo tahun ini bisa terpenuhi

Kelas Gak Gampang Marah

Ini klise yaaaa kalau baca judulnya. Kadang secara teori kita tahu ilmunya tapi memang kita butuh wadah untuk sharing dengan ahlinya.

Grup ini gratis, diasuh oleh Mbak Dama. Saya mengenal mbak Dama sebagai trauner di dunia pelatihan dan konseling dan beliau ini cakupannya sudah nasional. Qadarullah sejak kami berstatus sebagai emak-emak sering bertemu virtual entah di sosmed atau dalam grup kepenulisan.

Dengan latar belakang mbak Dama yang sangat mumpuni tentang ini, saya pun siap menjadi murid beliau.

Selain kelima kelas diatas, Ramadhan saya juga diwarnai dengan kegiatan Semarak Ramadhan dari IP Asia. Sejak pindah ke Busan, saya dimutasikan dari IP Bandung ke IP Asia. Dsla agenda ini sangat banyak ilmu yang didapatkan. Mulai dari sharing perihal “Mencintai Alquran” oleh mbak Wafi Al-Hafidzah dari IP Malaysia serta kajiam sabar dari Mbak Nina dari IP Arab Saudi. Benar-benar beruntung bisa menyerap ilmu dari mereka yang benar-benar mumpuni di bidangnya.

Kegiatan juga disini dengan berbagai kuis keagamaan, kelas memasak dan lomba kepenulisan yang alhamdulillah saya yang faqirah ini menjadi salah satu tulisan yang dipilih menjadi tulisan favorit disana. Mau baca tulisannya? Ada disini.

Dan rangkuman materi kajian-kajian diatas juga bisa didapat disini.

Oh iya, bagi yang belum baca saya dan kakak Sofi juga sempat mengikuti Musabaqoh Tahfidz online di masjid Al-Fatah Busan, ceritanya bisa dibaca disini dan sempat mengikutkan anak-anak dalam sanlat virtual anak yang diadakan oleh Rumaisa (Rumah Muslimah Indonesia di Korea) dan KBRI, cerita serunya juga bisa dibaca disini.

Masha Allah wa barakallahu lanaa. Ramadhan telah satu bula berlalu, niat saya menuliskan ini adalah sebagai ikhtiar dan pengingat kembali semangat positif Ramadhan saat itu, sehingga bisa menjadi bekal dan mewarnai sebelas bulan setelahnya.

Sekarang, kelas-kelas tersebut ada yang sudah usai dan saya pun memasuki kelas yang baru seperti kelas Pawon, Daurah Tuhfatul Athfal kembali, dan lainnya. Saya memegang perkataan salah seorang ulama yang menyatakan: Jika kita tidak disibukkan dengan kebaikan, maka keburukan akan menyibukkan kita. Dengan mengosongkan gelas yang adadan bismillah meluruskan niat dan menyempurnakan ikhiar yang ada.

Mungkin ada sebagian orang bertanya, kenapa mau aja bikin ribet ikut-ikut kelas yang mungkin dianggap receh bagi sebagian orang seoerri kelas berbenah dan lainnya. Sebagai ibu, saya berpegang pada kalimat “Children See, children do”. Saya menginginkan anak-anak terjaga matanya, bacaannya serta tontonanya sehingga saya pun berusaha menjaga diri saya sendiri dengan banyaknya majelis ilmu. Walau sempat keteteran, walau susah untuk konsisten, walau adaaaa saja godaan dan penghalang, semoga dengan mujahadan ini menjadi pemberat amal di hari kemudian nanti dan menjadi wasilah terididiknya anak-anak saya secara baik, terjaga dan terlindungi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *